Templates by BIGtheme NET
Rumah » informasi » Di Hadapan Masyarakat Rohil, Penasehat BNPT Beberkan Bagaimana Kehidupan Teroris
5ebbcfcf9673f218d7b19dr52-46880

Di Hadapan Masyarakat Rohil, Penasehat BNPT Beberkan Bagaimana Kehidupan Teroris

BAGANSIAPIAPI – Mendapatkan pendidikan tempur selama 15 tahun di Afghanistan, penasehat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Abdurrahman Ayub berbagi pengalaman dengan masyarakat Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Kamis (17/3/2016) malam.

Kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Agung Rohil mengangkat tema menangkal paham radikalisme ditanah melayu.

Abdurahman Ayub yang merupakan Alumnus Akademi Militer (Akmil) Mujahidin Afghanistan Kamp Ijtihad Islami Abdul Rasul Sayaf ini mengaku tak setuju jika Indonesia dijadikan negara perang. Padahal, sebelum bertobat, dia menganggap Indonesia negara kafir dan pemimpinnya adalah Toghut. Untuk itu,di dalam pikiran pria yang memiliki delapan anak itu, seluruh polisi di Indonesia adalah menjadi targetnya.

“Pulang dari Afghanistan, dalam pikiran tindakan saya hanya hit and run. Makanya saya tidak pernah tinggal di rumah tapi berdiam di pohon sawit. Itu di tahun 1992,” kata Ayub.

Sejak bergabung dengan Jamaah Islamiyah, Ayub kala itu masih duduk di kelas II STM Boedi Oetomo Jakarta. Di usia yang 17 tahun kala itu, dia ikut pengajian. Kemudian ia mengenal sejumlah petinggi Jamaah Islamiyah.

Kemudian dia menempuh ilmu kemiliteran di Afghanistan selama lima tahun. Di sana, selain jago bertempur melawan Uni Soviet (Rusia), Ayub juga seorang pengajar Akmil para milisi JI pimpinan Osamah Bin Laden. Sejumlah murid-muridnya asal Indonesia yang sudah “terkenal” antara lain Amrozy dan Imam Samudra. Untuk menjadi seorang pengajar, kata Ayub, mereka harus diambil dari murid yang cerdas dan berbakat.

“Imam Samudra adalah anak didik saya yang paling cerdas. Kalau sedang menerangkan dia sering mengantuk menandakan dia seorang yang cerdas. Termasuk Umar Patek, dia itu menguasai 30 jenis racun. Ia bisa membuat racun dari bahan alam. Ia menguasai berbagai jenis peledakan high explosive dengan memanfaatkan material yang ada disekitarnya. Bahkan menguasai 8 bahasa asing,” beber Ayub yang membuat terpukau jemaah.

Karena dianggap berharga, kata Ayub, kepala umar patek dihargai Amerika $1 juta. Soal bertempur dan merakit bom, bagi Ayub sudah bukan hal asing lagi. “Sambil merem aja bisa bikin bom,” kata Ayub tersenyum.

Berkecimpung di JI selama lima tahun Ayub bergerak menuju Sabah, Malaysia, dia menginap di rumah Hambali. Ayub juga bertugas sebagai penghubung atau kurir bagi mujahidin yang hendak berlatih ke Moro, Filipina, melalui jalur Malaysia.

“Saya pernah mengirim Omar Patek, Abu Tolut dan banyak lagi,” ungkapnya.

Karena dinilai mahir dalam berdakwah, Ayub juga pernah ditugaskan oleh petinggi jalan ke Australia. Di sana, ia menjabat sebagai pentolan Jamaah Islamiyah kekuatan ekonomi dan politik.

Ia menceritakan, kasus bom Thamrin adalah teroris kacangan. Yang korban adalah tukang pijit Maman Abdurrahman yang dikrangkeng di Nusa Kambangan. Di dalam jaringan teroris, ada semacam proposal pendanaan.

“Makanya yang korban adalah teroris kacangan dengan dalih bahwa dia sudah bekerja dengan cara menunjukkan aksi. Dan perlu pendanaan untuk menggalang aksi yang lebih besar,” ungkapnya.

Selama di Afghanistan, keberadaan Ayub tidak satupun yang tahu. Termasuk orang tuanya sendiri. Bahkan orang tuanya meninggal juga ia tidak peduli. Bahkan ia pernah bermimpi orangtuanya, dianggap merupakan gangguan setan.

Tidak hanya itu, Jihadis Al Wari membunuh orang tuanya serta menjadikan tempurung kepala bapaknya untuk dijadikan cangkir kopi. Itu ungkapan bagi jihadis bahwa bapaknya saja dibunuh apalagi orang lain.

“Memang akal sehat kami sudah hilang saat itu. Asalkan tidak seaqidah, membunuh itu halal,” katanya.

Dia mengungkapkan, seluruh senjata militer sudah pernah digunakan untuk berperang. Para Jihadis berdoa supaya Indonesia menjadi negara perang agar mereka bisa berJihad dan matinya akan dijemput oleh Bidadari.

Dia mengungkapkan, pecahan Jamaah Islamiyah yang paling berbahaya adalah pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). “Mereka sangat kasar dan sangat berlebihan. Kalau tidak mau dibaiat, mereka akan membuat sesukanya menghilangkan nyawa orang,” kata Ayub yang menyebutkan keponakannya juga masuk dalam jaringan ISIS.

Dalam acara Tablig Akbar, Ustad Abdurrahmah Ayub juga didampingi AKP Novaldi dari Kapolresta Pekanbaru dan ustad Abdurrahman Keken.(van)

Sumber:goriau.com

Tentang fkptriau